Sepenggal Cerita dari Azim

Tentang Cireng Ayam Pedas, Sebuah Puisi, dan Kebanggaan Seorang Ayah

Sepenggal Cerita dari Azim

Laraswangi - Lagi-lagi, selalu ada kenangan indah ketika menemani Azim dalam berbagai aktivitasnya. Bagi kami, orang tuanya, setiap momen menjadi begitu spesial. Terlebih ketika kami berkesempatan mengamati setiap perkembangan kecil dalam kesehariannya.

Ada satu kebiasaan yang selalu kami lakukan. Setiap kali Azim pulang dari sekolah, mengaji, atau dari mana pun, kami berusaha menanyakan pengalaman yang baru saja dilaluinya.

"Bagaimana tadi di sekolah? Seru?"

Kadang ia menjawab seru dan menyenangkan. Namun, ada kalanya ia bercerita tentang rasa sebel dan kesalnya kepada teman-temannya. Semua ia ceritakan kepada kami. Tentang hal-hal yang membuatnya senang, juga tentang sesuatu yang mungkin membuat hatinya kurang nyaman.

Kami berusaha mendengarkan dan mengapresiasi setiap cerita yang disampaikannya. Ketika ia sedang kesal kepada temannya, kami mencoba memberikan pengertian bahwa teman itu banyak, dengan karakter yang bermacam-macam. Tidak semuanya selalu sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya kita harus belajar memahami, memaklumi, dan menerima perbedaan.

Selain cerita tentang sekolah, Azim juga sering berbagi pengalaman mengajinya. Tentang belajar Al-Qur'an, mempelajari kitab, hingga berbagai pengalaman bersama Abah Yai Mad.

Bagi kami, cerita-cerita kecil semacam itu sangat berharga. Dari sana, kami bisa mengetahui apa yang sedang ia pikirkan, rasakan, dan alami.

Sepulang Mengaji dan Cireng Ayam Pedas

Sabtu sore, 7 November 2026, saya menjemput Azim pulang mengaji. Dalam perjalanan pulang, ketika jarak dari pondok menuju rumah sudah hampir separuh perjalanan, tiba-tiba Azim mengutarakan keinginannya untuk membeli cireng ayam pedas.

Padahal, lapak penjual cireng itu berada di sebuah perempatan yang baru saja kami lewati ketika berangkat pulang dari pondok tadi.

"Sudah, Yah. Beli nanti atau besok saja," katanya. Ia tampaknya tidak ingin merepotkan Ayahnya dengan meminta kembali ke tempat yang sudah kami lewati.

"Tidak apa-apa, Dek," jawab saya sambil memutar balik kendaraan menuju lapak penjual cireng.

"POV-nya kembali berangkat ngaji, ini," tuturnya dengan wajah berseri-seri.

Saya hanya tersenyum mendengarnya. Ada saja celoteh khas Azim yang terkadang membuat perjalanan sederhana terasa menyenangkan.

Sesampainya di rumah, ia meletakkan tas mengajinya yang berisi Al-Qur'an dan kitab di atas meja. Sejurus kemudian, jajanan cireng yang baru saja dibelinya juga diletakkan di meja.

Namun, rupanya masih ada cerita lain yang ingin ia sampaikan.

Sebuah Puisi dari Azim

"Yah, aku tadi di sekolah membuat puisi," tuturnya bangga.

"Eh, iya kah?"

"Iya."

Ia segera berlari menuju kamar untuk mengambil buku dari dalam tas sekolahnya.

"Ini..." katanya sambil menunjukkan sebuah tulisan kepada saya.

Kemudian, ia pun membacakan puisi itu.

"Wah, bagus banget. Itu bikin sendiri?"

"Iya lah..." jawabnya mantap dan penuh percaya diri.

Saya kembali tersenyum. Rupanya, hari itu Azim tidak hanya membawa pulang cerita tentang kegiatan sekolah dan pengalaman mengajinya. Ada sebuah karya kecil yang juga ingin ia perlihatkan kepada Ayahnya.

Judul puisi itu adalah "Terima Kasih Guru".

Berikut puisi yang ditulis Azim dengan tangannya sendiri.

TERIMA KASIH GURU

Guru, tanpamu aku tidak mengerti dunia.

Kau selalu ada di hatiku.

Tanpamu aku takkan pernah bisa membaca.

Kau selalu mengajar kami tanpa rasa lelah.

Kau membuat kami terasa bahagia.

Maafkan aku jika aku membuatmu marah.

Kau akan selalu ada di doaku.

Karya: Azimatun Faiqotuz Zahro


Membaca puisi itu, saya mencoba memahami apa yang sesungguhnya sedang tumbuh dalam pikiran dan perasaan Azim.

Puisi itu berisi ungkapan terima kasih kepada guru. Sebuah tulisan sederhana yang lahir dari tangan mungilnya. Entah dari mana ia mendapatkan inspirasi, siapa yang menggerakkan pikirannya, atau pengalaman apa yang membuatnya ingin menuangkan rasa terima kasih itu dalam bentuk puisi.

Yang jelas, ia telah berhasil mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam hatinya melalui kata-kata.

Ada pengakuan bahwa guru memiliki peran penting dalam mengenalkan dunia. Ada kesadaran bahwa guru mengajarkan membaca, mendampingi dengan kesabaran, dan menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, ada permohonan maaf ketika ia mungkin pernah membuat gurunya marah.

Dan yang paling menyentuh, ia menutup puisinya dengan sebuah ungkapan doa.

"Kau akan selalu ada di doaku."

Sungguh, sebuah kalimat sederhana yang mengandung makna mendalam.

Saya tidak tahu apakah Azim menyadari sepenuhnya makna dari setiap kalimat yang ditulisnya. Namun, bagi saya, keberaniannya menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam sebuah puisi adalah sesuatu yang patut diapresiasi.

Mendengarkan, Menghargai, dan Menemani

Sebagai orang tua, terkadang kita terlalu sibuk memikirkan apa yang harus diajarkan kepada anak. Kita ingin mereka pandai membaca, berhitung, mengaji, berprestasi, dan memiliki banyak keterampilan.

Namun, ada satu hal sederhana yang jangan sampai terlupakan: menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita mereka.

Sebab, di balik cerita-cerita kecil itu, ada dunia anak yang sedang bertumbuh. Ada pengalaman yang sedang mereka pahami, perasaan yang sedang mereka kenali, serta gagasan yang perlahan-lahan mulai mereka ungkapkan.

Mungkin bagi sebagian orang, memutar balik kendaraan demi membeli cireng ayam pedas bukanlah peristiwa istimewa. Begitu pula membaca puisi sederhana yang ditulis seorang anak.

Namun, bagi saya, dua peristiwa kecil itu menyimpan kebahagiaan tersendiri.

Ada senyum Azim ketika keinginannya terpenuhi. Ada binar matanya ketika menunjukkan hasil karyanya. Ada kebanggaan ketika ia berkata, "Iya lah," dengan penuh percaya diri.

Dan ada kesempatan bagi seorang Ayah untuk kembali belajar memahami dunia anaknya.

Kelak, mungkin Azim sudah tumbuh menjadi remaja, bahkan dewasa. Ia mungkin tidak lagi meminta dibelikan cireng ayam pedas sepulang mengaji. Ia juga mungkin sudah menulis puisi-puisi yang jauh lebih indah.

Namun, saya ingin kenangan kecil ini tetap tersimpan.

Bahwa pernah ada seorang anak bernama Azimatun Faiqotuz Zahro yang pulang mengaji dengan membawa Al-Qur'an, kitab, sebungkus cireng ayam pedas, dan sebuah puisi sederhana berjudul Terima Kasih Guru.

Dan ada seorang Ayah yang merasa begitu bahagia karena diberi kesempatan untuk mendengarkan semua ceritanya.

Sebab, mendampingi anak tumbuh bukan semata-mata tentang mengantarkannya menuju masa depan. Lebih dari itu, tentang menikmati setiap prosesnya, menghargai setiap pencapaiannya, dan hadir dalam cerita-cerita kecil yang mungkin kelak justru menjadi kenangan paling berharga.

Terima kasih, Azim.

Hari ini, bukan hanya Ayah yang belajar tentang kehidupan. Dari cerita dan puisimu, Ayah kembali belajar bahwa kebahagiaan sering kali hadir melalui hal-hal sederhana.

Teruslah belajar, membaca, mengaji, bercerita, dan berkarya, Nak.

Semoga kelak engkau tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, dan tidak pernah lupa mendoakan orang-orang yang telah menemanimu dalam perjalanan kehidupan.

Salam sayang dari Ayah.


Laraswangi, 08-11-2026

Super Admin

Penulis dan jurnalis di Laraswangi. Meliput berbagai isu aktual dan memberikan laporan mendalam untuk pembaca setia kami.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditampilkan setelah moderasi.