"Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap."
"Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah."
Jika membaca sepenggal lirik tersebut, mungkin saya, atau kita yang segenerasi, akan spontan membacanya sambil berdendang.
Ya, itu adalah penggalan lirik lagu berjudul "Dongeng", yang dipopulerkan oleh grup band Wayang dan dirilis pada Juli 1999.
Lagu tersebut menggambarkan perasaan seseorang yang sulit tidur, diliputi kegelisahan, dan merindukan ketenangan. Ia berharap ada cerita indah yang bisa mengantarkannya menuju lelap dan menghadirkan mimpi-mimpi yang menyenangkan.
Dulu, ketika masih anak-anak, mulai usia TK, SD, bahkan hingga MTs, saya termasuk anak yang suka mendengarkan dongeng menjelang tidur. Orang yang biasa mendongengi saya adalah Mbah Dok.
Ada banyak cerita dan pesan kehidupan yang disampaikan Mbah Dok melalui dongeng-dongengnya. Anehnya, meskipun peristiwa itu sudah berlalu puluhan tahun, beberapa pesan yang disampaikannya masih saya ingat hingga sekarang. Bahkan, tanpa saya sadari, pesan-pesan tersebut menjadi salah satu pedoman dalam menjalani kehidupan.
Nah, rupanya, kebiasaan mendengarkan dongeng menjelang tidur itu juga disukai oleh Azimatun Faiqotuz Zahro.
Azim, begitu kami memanggilnya, saat ini duduk di kelas III MI Islamiyah Kepoh. Ia hampir selalu meminta saya membacakan dongeng ketika menjelang tidur.
Saya pun berusaha memenuhi keinginannya, sepanjang tidak ada agenda atau kegiatan lain di luar rumah.
Cerita yang saya bacakan bermacam-macam. Ada kisah petualangan, cerita tentang kehidupan di sekolah, pengalaman mengikuti kegiatan Pramuka, dan berbagai kisah lainnya yang saya sesuaikan dengan pengalaman serta keseharian Azim.
Menariknya, Azim sendiri selalu saya jadikan tokoh utama dalam setiap dongeng tersebut. Dengan begitu, ia seolah-olah sedang mengalami sendiri petualangan dan berbagai peristiwa yang saya ceritakan.
Ada satu kebiasaan Azim yang selalu saya tunggu sebelum mulai mendongeng. Ia tidak mau langsung mendengarkan cerita sebelum menyelesaikan doa menjelang tidurnya. Ia meminta saya menunggunya sampai selesai berdoa. Setelah itu, barulah saya mulai membacakan dongeng.
Ketika cerita selesai, Azim pun berpamitan untuk tidur. Tak lama kemudian, ia terlelap.
Pagi harinya, selepas salat Subuh berjamaah, saya membangunkannya. Meskipun terkadang agak sulit dibangunkan, ia biasanya bisa segera bangun tanpa rewel. Setelah itu, ia melanjutkan salat Subuh sendiri di kamarnya.
Begitulah rutinitas kami setiap hari.
Ada satu hal menarik yang kemudian membuat saya penasaran. Seusai salat Subuh dan sebelum bersiap mandi, saya sering mencoba bertanya kepada Azim tentang dongeng yang saya bacakan malam sebelumnya.
Di luar dugaan, ia mampu mengingatnya dengan sangat baik. Alur cerita, nama-nama tokoh, berbagai peristiwa, bahkan pesan moral yang terselip di dalam dongeng, semuanya masih tersimpan dalam ingatannya.
Saya pun terkadang dibuat takjub. Bagaimana mungkin cerita yang dibacakan menjelang tidur itu masih bisa diingat dengan begitu baik keesokan paginya?
Dongeng, Lebih dari Sekadar Cerita
Dari kebiasaan sederhana tersebut, saya mulai memahami bahwa mendongeng bukan sekadar aktivitas untuk menemani anak sebelum tidur. Ada banyak hal yang berlangsung di balik sebuah cerita.
Ketika mendengarkan dongeng, seorang anak sedang diajak berimajinasi. Ia membayangkan tokoh, tempat, suasana, dan berbagai peristiwa yang mungkin belum pernah dialaminya. Ia belajar mengenali persoalan, memahami sebab dan akibat, serta membedakan perilaku baik dan buruk.
Ketika tokoh dalam cerita menghadapi kesulitan, anak belajar tentang keberanian. Ketika tokoh tersebut membantu temannya, anak mengenal arti kepedulian. Ketika tokoh melakukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya, anak belajar tentang kejujuran dan tanggung jawab.
Semua itu disampaikan tanpa harus memberikan nasihat panjang lebar.
Barangkali, inilah salah satu keistimewaan dongeng. Pesan kehidupan tidak selalu harus disampaikan melalui petuah atau ceramah. Terkadang, sebuah cerita sederhana justru lebih mudah diterima dan membekas dalam ingatan anak.
Saya juga merasakan bahwa mendongeng menjadi salah satu cara membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Bayangkan, di tengah kesibukan masing-masing, ada waktu khusus ketika seorang ayah duduk di samping anaknya. Tidak sedang memegang pekerjaan, tidak sibuk dengan telepon genggam, dan tidak sedang memikirkan urusan lain. Hanya ada seorang ayah, seorang anak, dan sebuah cerita.
Mungkin bagi orang dewasa, waktu beberapa menit itu terasa biasa saja. Namun, bagi seorang anak, perhatian semacam itu bisa menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Ia merasa didengarkan, ditemani, dan diperhatikan.
Bahkan, saya berpikir, boleh jadi yang paling ditunggu Azim setiap malam bukan semata-mata cerita yang akan saya bacakan, melainkan momen kebersamaan itu sendiri.
Dari Mbah Dok, untuk Azim
Ada satu hal yang kemudian membuat saya merenung.
Dulu, saya adalah seorang anak yang menunggu Mbah Dok mendongengi saya. Saya mendengarkan setiap cerita, membayangkan tokoh-tokohnya, dan menyimpan pesan-pesan yang disampaikan melalui dongeng tersebut.
Kini, waktu telah membawa saya pada posisi yang berbeda. Saya bukan lagi anak kecil yang menunggu cerita menjelang tidur. Saya telah menjadi seorang ayah yang membacakan dongeng untuk anaknya.
Ada semacam kesinambungan yang terasa begitu indah.
Apa yang dahulu saya terima dari Mbah Dok, kini saya coba teruskan kepada Azim. Tentu dengan cerita yang berbeda, tokoh yang berbeda, dan suasana zaman yang juga berbeda. Namun, ada satu hal yang ingin tetap saya pertahankan: menyampaikan pesan-pesan kebaikan melalui cerita.
Saya tidak tahu, apakah kelak Azim masih mengingat seluruh dongeng yang pernah saya bacakan. Saya juga tidak tahu, apakah ia akan mengingat setiap alur cerita, nama tokoh, dan pesan moral di dalamnya.
Namun, saya berharap, ada sesuatu yang tetap tinggal dalam ingatannya.
Bukan hanya tentang petualangan menyeberangi sungai, mendirikan tenda bersama teman-teman, atau berbagai kisah menarik lainnya. Lebih dari itu, saya berharap ia mengingat nilai-nilai keberanian, persahabatan, kejujuran, kepedulian, kemandirian, dan ketakwaan yang terselip dalam setiap cerita.
Saya juga berharap, suatu hari nanti, ketika Azim telah tumbuh dewasa, ia masih mengingat kebiasaan kecil ini. Bahwa dahulu, ada seorang ayah yang berusaha meluangkan waktu untuk membacakan dongeng sebelum ia tidur.
Mungkin, saat itu ia sudah tidak lagi meminta dibacakan cerita. Ia telah memiliki kesibukan, dunia, dan petualangannya sendiri.
Namun, mudah-mudahan kenangan tentang dongeng-dongeng sebelum tidur itu tetap menjadi bagian indah dari masa kecilnya.
Sebab, bagi saya, mendongeng bukan semata-mata tentang bagaimana membuat anak cepat terlelap. Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada itu: menitipkan nilai-nilai kehidupan melalui cerita, sekaligus merawat kedekatan antara orang tua dan anak.
Saya pun teringat kembali kepada Mbah Dok. Betapa sederhana cara beliau mendidik saya dahulu. Tanpa buku-buku parenting, tanpa teori psikologi perkembangan anak, dan tanpa perangkat teknologi canggih. Hanya melalui cerita-cerita menjelang tidur, beliau menitipkan banyak pelajaran kehidupan.
Kini, saya baru benar-benar menyadari bahwa beberapa hal sederhana yang dilakukan orang tua dan orang-orang terdahulu ternyata menyimpan makna yang begitu dalam.
Barangkali, dongeng memang hanya berlangsung beberapa menit sebelum mata terpejam. Namun, pesan-pesan di dalamnya bisa tinggal jauh lebih lama daripada waktu tidur itu sendiri.
Dan jika suatu hari nanti Azim mengenang masa kecilnya, saya berharap salah satu kenangan indah yang muncul dalam ingatannya adalah suara ayahnya yang membacakan dongeng menjelang tidur.
Sebab, ada cerita yang selesai ketika dibacakan, tetapi ada pula cerita yang terus hidup dalam ingatan, bahkan ketika orang yang menceritakannya telah tiada.
Laraswangi, 04-11-2026
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!