Bubak Bumi: Merawat Syukur, Menyemai Doa

Bubak Bumi. Merawat tradisi, menguatkan silaturahmi, mensyukuri nikmat Ilahi, dan menyemai doa untuk kehidupan yang lebih baik.

Bubak Bumi: Merawat Syukur, Menyemai Doa

Laraswangi - Ada tradisi yang tetap hidup di tengah masyarakat dusun, meskipun zaman terus berubah. Salah satunya adalah Bubak Bumi.

Bagi sebagian orang, mungkin Bubak Bumi hanya dipahami sebagai acara slametan atau kenduri. Namun, bagi masyarakat dusun tempat saya dilahirkan, tradisi ini memiliki makna yang lebih dalam. Di dalamnya ada rasa syukur, kebersamaan, doa, sekaligus ikatan batin dengan tanah kelahiran.

Malam ini, masyarakat dusun akan kembali berkumpul. Bertempat di masjid, warga datang dengan membawa makanan berupa kue apem yang disiram kuah manis, perpaduan santan dan gula. Sederhana, tetapi memiliki makna yang istimewa.

Bubak Bumi menjadi penanda bahwa satu musim telah berlalu dan musim berikutnya mulai menyapa.

Musim kemarau tahun ini terasa cukup panjang dan panas. Bahkan, suhu udara sempat mencapai 37 derajat Celsius. Di tengah teriknya matahari, para petani tembakau tetap menjalani aktivitasnya. Mereka merawat tanaman, menunggu masa panen, lalu berharap hasilnya dapat memberikan penghidupan yang baik bagi keluarga.

Alhamdulillah, harga tembakau musim ini terbilang lumayan bagus. Sebuah nikmat yang patut disyukuri. Sebab, bagi petani, hasil panen bukan sekadar angka dalam transaksi jual beli. Di dalamnya ada keringat, kesabaran, biaya yang dikeluarkan, dan doa-doa yang dipanjatkan sejak benih mulai ditanam.

Kini, tembakau di sawah telah habis. Musim kemarau perlahan meninggalkan jejaknya. Para petani mulai bersiap menyambut musim penghujan, musim yang dinanti untuk kembali mengolah tanah dan menanam padi.

Namun, hujan belum juga turun sebagaimana yang diharapkan.

Tanah masih menunggu basah. Sawah-sawah menanti air. Sementara para petani mulai menghitung hari, berharap hujan segera datang agar musim tanam padi tidak terlambat.

Di sinilah Bubak Bumi menemukan maknanya.

Malam ini, kami berkumpul bukan semata-mata untuk menikmati hidangan apem dan kuah manis. Kami datang untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah Swt. anugerahkan selama musim kemarau. Kami juga ingin memanjatkan doa, memohon agar Allah segera menurunkan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan.

Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam, kami menyadari betapa besar ketergantungan manusia terhadap kemurahan Allah. Hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit. Ia adalah sumber kehidupan, penyubur tanah, penghidup tanaman, dan harapan bagi para petani.

Melalui istighotsah dan doa bersama, kami mengetuk pintu langit. Memohon agar Allah menurunkan hujan yang cukup, bukan hujan yang mendatangkan bencana. Hujan yang membawa kesuburan, bukan kerusakan. Hujan yang menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Nya.

Tentu saja, tradisi Bubak Bumi bukanlah ritual untuk meminta kepada bumi. Segala permohonan tetap kita tujukan kepada Allah Swt., Dzat Yang Maha Mengatur alam semesta. Bumi hanyalah tempat kita berpijak, tempat mencari penghidupan, sekaligus amanah yang harus dijaga.

Saya selalu merasa bahwa tradisi semacam ini memiliki pelajaran penting. Bahwa di tengah kesibukan mencari nafkah, manusia perlu sesekali berhenti sejenak. Menengok kembali perjalanan hidupnya, mensyukuri apa yang telah diperoleh, dan menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya.

Ada hasil panen yang patut disyukuri. Ada panas yang harus disabari. Ada tanah yang perlu dirawat. Ada hujan yang harus dinanti. Dan ada doa yang tak boleh berhenti dipanjatkan.

Malam ini, di masjid dusun tempat saya dilahirkan, kami akan duduk bersama. Menyatukan hati, melantunkan istighotsah, dan mengangkat tangan dalam doa.

Semoga Allah menerima rasa syukur kami, mengampuni kekhilafan kami, serta segera menganugerahkan hujan yang membawa keberkahan.

Sebab, bagi kami, datangnya hujan bukan hanya tentang pergantian musim. Ia adalah datangnya harapan baru.

Laraswangi, Menjelang Maghrib

05 November 2026

Super Admin

Penulis dan jurnalis di Laraswangi. Meliput berbagai isu aktual dan memberikan laporan mendalam untuk pembaca setia kami.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditampilkan setelah moderasi.