Ada sebuah nasihat yang beberapa waktu lalu Ayah dengar dari
Ning Khilma Anis, penulis novel Hati Suhita.
Dalam istilah ilmu Jawa, setiap orang memiliki wadah,
wayah, dan jatah masing-masing.
Wadah adalah value, kapasitas, dan kualitas
diri.
Wayah adalah waktu.
Jatah adalah rezeki yang telah Allah tetapkan.
Ayah kemudian berpikir, mungkin nasihat ini baik sekali
untuk kalian, anak-anakku.
Nak...
Kalau suatu hari nanti kalian menginginkan kehidupan yang
baik, rezeki yang luas, pekerjaan yang baik, keluarga yang bahagia, dan masa
depan yang indah, jangan hanya sibuk memikirkan jatah.
Jangan terlalu sering bertanya:
"Kapan rezekiku datang?"
"Kapan aku berhasil?"
"Kapan aku mendapatkan pasangan?"
"Kapan kehidupanku seperti orang lain?"
Tetapi tanyakan kepada diri sendiri:
"Sudah sebesar apa wadahku?"
Karena itu, Nak, besarkanlah wadahmu.
Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Perbanyak ilmu. Bangun
keterampilan. Latih kemandirian. Jaga kesehatan. Perbaiki akhlak. Belajar
mengelola uang. Belajar mengambil keputusan. Belajar menghadapi kegagalan. Dan
yang paling penting, jangan pernah jauh dari Allah.
Jadilah perempuan yang memiliki value.
Bukan hanya cantik wajahnya, tetapi juga indah akhlaknya.
Bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga bijaksana dalam
bersikap.
Bukan hanya memiliki pendidikan yang tinggi, tetapi juga
memiliki hati yang matang.
Bukan hanya mampu mendapatkan sesuatu, tetapi juga mampu
menjaga dan mengelolanya.
Sebab, kecantikan bisa berubah. Harta bisa berkurang. Jabatan
bisa hilang. Popularitas bisa berlalu.
Tetapi ilmu, akhlak, iman, keteguhan hati, dan kemampuan
diri akan menjadi bekal yang terus kalian bawa ke mana pun kalian pergi.
Nak, jangan terburu-buru dengan waktumu.
Setiap orang mempunyai wayah masing-masing.
Ada yang berhasil lebih dahulu.
Ada yang menikah lebih cepat.
Ada yang mendapatkan pekerjaan lebih awal.
Ada yang memiliki rumah lebih muda.
Ada yang tampak lebih beruntung.
Jangan jadikan perjalanan orang lain sebagai ukuran
perjalanan hidupmu.
Kalau temanmu sudah sampai di suatu tempat, bukan berarti
kamu terlambat.
Mungkin Allah sedang mempersiapkanmu untuk perjalanan yang
berbeda.
Tidak semua bunga mekar pada waktu yang sama.
Maka jangan merasa rendah hanya karena hidupmu belum seperti
yang kamu bayangkan.
Teruslah bertumbuh.
Sebab tugas kalian bukan memaksa wayah datang sesuai
keinginan kalian.
Tugas kalian adalah mempersiapkan wadah sebaik-baiknya
sambil menunggu wayah yang Allah tentukan.
Dan tentang jatah, Nak...
Percayalah bahwa Allah tidak pernah keliru membagi rezeki.
Apa yang menjadi bagianmu tidak akan tertukar dengan milik
orang lain.
Tidak perlu iri kepada kehidupan orang lain.
Tidak perlu memaksakan sesuatu hanya karena takut kehilangan
kesempatan.
Tidak perlu menerima sesuatu yang buruk hanya karena takut
tidak mendapatkan yang lebih baik.
Termasuk dalam urusan jodoh.
Kelak, ketika waktunya tiba, jangan hanya mencari seseorang
yang membuat hati kalian berdebar.
Carilah seseorang yang membuat kalian merasa aman.
Carilah laki-laki yang baik agamanya, baik akhlaknya,
bertanggung jawab, menghormati orang tua, menghargai perempuan, dan mampu
menjadi teman bertumbuh dalam kebaikan.
Dan sebelum mencari pasangan yang baik, jadilah perempuan
yang baik terlebih dahulu.
Sebab kalian tidak hanya sedang menunggu seseorang datang.
Kalian juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi istri,
ibu, dan manusia yang bermanfaat kelak.
Nak, Ayah dan ibu tidak tahu seperti apa kehidupan kalian
nanti.
Ayah dan ibu tidak tahu di mana kalian akan tinggal.
Tidak tahu pekerjaan apa yang akan kalian jalani.
Tidak tahu siapa yang kelak mendampingi kalian.
Tidak tahu seberapa besar rezeki yang Allah titipkan kepada
kalian.
Tetapi Ayah berharap satu hal:
Jadilah perempuan yang kuat tanpa kehilangan kelembutan.
Jadilah perempuan yang mandiri tanpa kehilangan rasa hormat.
Jadilah perempuan yang berpendidikan tanpa kehilangan adab.
Jadilah perempuan yang sukses tanpa kehilangan
kesederhanaan.
Jadilah perempuan yang memiliki banyak hal, tetapi tidak
kehilangan Allah.
Kalau suatu hari kalian mendapatkan rezeki yang besar,
jangan sombong.
Kalau suatu hari kalian mendapatkan rezeki yang sedikit,
jangan putus asa.
Kalau suatu hari hidup terasa mudah, bersyukurlah.
Kalau suatu hari hidup terasa berat, bersabarlah.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa banyak jatah
yang kita terima.
Tetapi tentang seberapa siap wadah kita menerimanya dan
seberapa bijak kita menggunakannya.
Maka, anak-anakku...
Besarkan wadahmu. Perkuat imanmu. Perindah akhlakmu. Perbanyak
ilmumu.
Jaga kehormatanmu. Persiapkan dirimu.
Lalu biarkan wayah datang pada waktunya.
Dan ketika jatah itu tiba, terimalah dengan penuh
syukur.
Karena apa yang Allah berikan kepadamu tidak pernah salah
alamat.
Wadahmu adalah ikhtiarmu.
Wayahmu adalah ketetapan Allah.
Jatahmu adalah rezeki-Nya.
Tugasmu adalah terus menjadi lebih baik. Selebihnya,
serahkan kepada Allah.
Semoga kelak kalian menjadi perempuan-perempuan yang
bukan hanya berhasil dalam kehidupan, tetapi juga selamat dan bahagia sampai
akhir perjalanan.
Itulah doa Ayah dan ibu untuk kalian.
Untuk kalian, anak-anak perempuan Ayah dan ibu.
Zahra dan Azim.
Dengan cinta yang mungkin tidak selalu pandai Ayah ungkapkan
dengan kata-kata.
Kedungsari, Kepoh
24 Agustus 2026
Menjelang Maghrib
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!