Kesibukan Kecil Azim

Jangan sampai kita terlalu sibuk menyiapkan masa depan anak, hingga lupa menikmati dan menemani masa kecilnya.

Kesibukan Kecil Azim

Laraswangi - Kegiatan Azimatun Faiqotuz Zahro, anak kedua kami, dalam kesehariannya ternyata tak kalah padat dibandingkan dengan aktivitas kami, ayah dan ibunya. Seolah-olah sedang bersaing. Hehehe...

Azim, bocah kecil berusia sembilan tahun ini, memiliki seabrek aktivitas sejak bangun tidur hingga kembali memejamkan mata. Rutinitasnya berlangsung dari Senin sampai Sabtu.

Pagi hari, ia berangkat sekolah hingga pukul 13.00 WIB. Selepas Asar, aktivitasnya berlanjut dengan mengaji hingga menjelang Magrib. Usai salat Magrib berjamaah, ia harus belajar dan mempersiapkan buku-buku pelajaran untuk esok hari. Kegiatan itu berlangsung hingga menjelang Isya. Setelah semuanya selesai, barulah ia bisa beristirahat.

Khusus hari Jumat, murid kelas II MI Islamiyah Kepoh ini libur mengaji. Namun, bukan berarti ia benar-benar bebas dari aktivitas. Ada kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) yang harus diikutinya di madrasah.

Seperti hari ini, Jumat Pahing (6 November 2026), Azim mengikuti kegiatan Pramuka. Jumat sebelumnya, ia mengikuti ekskul English Camp. Begitu seterusnya, bergantian setiap pekan.

Apakah Azim pernah mengeluh dan merasa capek? Tentu saja. Sesekali ia juga agak mogok dan enggan berangkat. Wajar, namanya juga anak-anak. Bisa jadi, ia memang sedang merasa lelah dengan padatnya aktivitas yang harus dijalani.

Suatu ketika, kami menawarinya untuk mengikuti les atau bimbingan belajar di luar kegiatan sekolah dan mengaji.

"Azim mau les?" tanya kami.

"Tidak, Yah," jawabnya singkat.

Kami tidak memaksa. Kami menghargai pendapat dan keinginannya. Namun, ada satu persyaratan yang kami ajukan. Setiap malam, selepas Magrib, ia harus belajar di rumah dengan ditemani ibu dan ayah.

Dengan mantap, ia menjawab, "Siap!"

Sementara itu, beberapa teman sebaya sekaligus teman sekelasnya memiliki aktivitas yang sedikit berbeda. Setiap hari, sepulang mengaji, sekitar pukul 17.00 WIB, mereka dijemput orang tuanya untuk kemudian diantar ke tempat les.

Hal itu saya ketahui ketika hampir setiap sore menjemput Azim pulang mengaji. Saya kerap bertemu dengan orang tua teman-temannya. Mereka datang menjemput anak-anak sambil membawa tas berisi perlengkapan belajar.

"Sekalian berangkat les, tidak pulang dulu," tutur salah seorang orang tua ketika kami berbincang santai.

"Sampai menjelang Isya," imbuh orang tua yang lain.

Dari obrolan-obrolan ringan itu, saya mengetahui alasan sebagian orang tua mengikutsertakan anak-anak mereka dalam kegiatan bimbingan belajar. Rupanya, tidak sedikit orang tua yang merasa kesulitan mengondisikan anak untuk belajar di rumah.

"Kalau di rumah sulit disuruh belajar. Malah main HP terus," jelas salah seorang di antara mereka.

Mendengar cerita mereka, saya hanya tersenyum. Setiap orang tua tentu memiliki pertimbangan dan cara masing-masing dalam mendampingi pendidikan anak-anaknya. Tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Namun, obrolan itu kemudian membuat saya berpikir. Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk menambah jam belajar anak, tetapi lupa menyediakan waktu untuk benar-benar menemani mereka belajar.

Saya sendiri tidak tahu, apakah keputusan kami untuk tidak mengikutkan Azim dalam bimbingan belajar di luar sudah tepat. Waktu yang akan menjawabnya. Yang jelas, kami ingin berusaha memberikan ruang bagi Azim untuk menikmati masa kecilnya, tanpa mengabaikan tanggung jawab belajarnya.

Bagi kami, belajar bukan semata-mata tentang berapa banyak materi yang dikuasai, berapa tinggi nilai yang diperoleh, atau seberapa cepat anak menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Ada hal lain yang tidak kalah penting: tumbuhnya rasa ingin tahu, kemandirian, kedisiplinan, dan kebahagiaan dalam belajar.

Mungkin, yang paling dibutuhkan anak bukan tambahan jam les, melainkan kehadiran orang tua yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan ceritanya, menemani kesulitannya, dan sesekali memberikan pelukan ketika ia mulai merasa lelah.

Sebab, anak-anak tidak hanya membutuhkan pendidikan yang baik. Mereka juga membutuhkan masa kecil yang menyenangkan.

Pengalaman mendampingi Mbak Zuhro, kakaknya Azim, mengajarkan banyak hal kepada kami. Dulu, kami masih bisa menemani dan mengawasi proses belajarnya setiap hari hingga ia menyelesaikan pendidikan di MI.

Setelah itu, ia melanjutkan sekolah sekaligus mondok di MTs Negeri 1 Lamongan. Lulus dari sana, ia melanjutkan pendidikan di Jombang, juga dengan sekolah sekaligus mondok. Kini, ia sedang menempuh pendidikan tinggi di Malang.

Jarak dan keadaan membuat peran kami perlahan berubah. Kami tidak lagi bisa selalu berada di sampingnya. Kami hanya bisa mendoakan, memberi kepercayaan, dan terus memberikan dukungan dari rumah.

Dari perjalanan itulah kami belajar bahwa kesempatan mendampingi anak-anak ketika masih kecil adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.

Kini, melalui Azim, kami ingin kembali menikmati fase itu. Menemaninya membuka buku selepas Magrib, mendengarkan celotehnya, membantunya memahami pelajaran, atau sesekali membujuknya ketika mulai malas belajar.

Mungkin, kelak ketika Azim sudah dewasa dan memiliki kesibukan sendiri, hal-hal sederhana seperti itulah yang justru akan kami rindukan.

Sebab, kami tidak sedang berlomba membesarkan anak yang paling hebat. Kami hanya ingin mendampingi mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, bahagia, dan mencintai proses belajar.

Jangan sampai kita terlalu sibuk menyiapkan masa depan anak, hingga lupa menikmati dan menemani masa kecilnya.

Laraswangi, 06-11-2026

Super Admin

Penulis dan jurnalis di Laraswangi. Meliput berbagai isu aktual dan memberikan laporan mendalam untuk pembaca setia kami.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditampilkan setelah moderasi.