Memetik Kersen, Merajut Kenangan Bersama Azim

Barangkali, buah kersen itu akan habis dimakan. Namun, kenangan tentang memetiknya bersama Ayah, semoga tetap tumbuh dan berbuah sepanjang masa.

Memetik Kersen, Merajut Kenangan Bersama Azim


Laraswangi - Salah satu kegiatan favorit Azimatun Faiqotuz Zahro adalah mencari buah kersen. Ya, sering kali, pada beberapa kesempatan—saat libur sekolah, libur mengaji, atau ketika ada waktu senggang—Azim mengajak kami (Ayah, Ibu, atau Nange, jika sedang sempat) pergi ke sawah untuk memetik buah ceri Jawa itu.

Seperti kemarin, Jumat, 6 November 2026. Sepulang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, kemudian setelah berjamaah Ashar, Azim mengajak saya pergi ke sawah.

"Yah, nanti ayo ke sawah ambil kersen, ya?" Pintanya ketika naik motor, saat saya menjemputnya sepulang Pramuka.

"Insyaallah, Dek. Tapi kita jamaah Ashar dulu, ya," jawab saya menyetujui ajakannya.

Tampak dari kaca spion, wajahnya berseri. Senyum mengembang di bibir mungilnya. Rupanya, ajakan sederhana itu sudah cukup membuatnya bahagia.

Memang selalu ada keseruan tersendiri ketika kami naik motor menuju pohon kersen yang tumbuh rindang di tanggul waduk (embung) desa tempat kami tinggal.

Suasananya begitu indah. Dari sana, kami bisa memandang dusun tempat tinggal kami dari kejauhan. Angin bertiup sepoi-sepoi, menghadirkan kesejukan yang membuat suasana terasa semakin menyenangkan.

Saya pun memarkir motor tepat di bawah pohon kersen yang rindang.

Begitu turun dari motor, Azim langsung mendongak ke atas. Matanya segera menemukan buah-buah kersen yang mulai memerah. Dengan penuh semangat, ia berusaha meraih buah-buah itu. Beberapa di antaranya berada di ranting yang cukup tinggi. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Ia mencoba menjangkaunya menggunakan sebatang kayu kecil yang kebetulan ditemukan di sekitar pohon.

"Yah, itu, Yah...." Jemarinya menunjuk buah kersen yang merah dan agak besar di ketinggian. "Tolong ambilkan, Yah...."

Saya pun meraih ujung ranting pohon itu, lalu menariknya ke bawah agar Azim lebih mudah memetik buah yang diinginkannya.

Sesekali saya memperhatikan wajahnya. Ada binar kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Apalagi ketika tas rajut kecil tempat menyimpan uang yang dibawanya dari rumah mulai penuh dengan buah-buah kersen matang.

Sederhana memang. Tidak ada sesuatu yang mewah. Tidak pula membutuhkan biaya. Hanya perjalanan singkat ke sawah, sebuah pohon kersen, dan buah-buah kecil yang dipetik bersama.

Namun, bagi kami, momen itu terasa begitu istimewa.

Sebab, sesungguhnya, yang sedang kami kumpulkan bukan semata-mata buah kersen. Ada kebersamaan yang sedang kami rajut. Ada percakapan-percakapan kecil yang mungkin kelak akan dirindukan. Ada tawa dan kebahagiaan sederhana yang perlahan-lahan menjadi bagian dari perjalanan masa kecil Azim.

Saya menyadari, masa kanak-kanak tidak akan berlangsung selamanya. Akan tiba waktunya Azim tumbuh dewasa. Mungkin suatu hari nanti, ia tidak lagi mengajak Ayahnya pergi ke sawah untuk memetik kersen. Ia akan memiliki kesibukan, dunia, dan perjalanan hidupnya sendiri.

Namun, saya berharap, ada sepotong kenangan yang tetap tinggal di sudut memorinya. Tentang sebuah pohon kersen di tanggul embung desa. Tentang tas rajut kecil yang penuh buah merah. Dan tentang seorang Ayah yang selalu berusaha menyediakan waktu untuk menemani putrinya menikmati hal-hal sederhana.

Sebab, bagi seorang Ayah, kebahagiaan tidak selalu tentang memberikan sesuatu yang besar kepada anak-anaknya. Terkadang, cukup dengan hadir, menemani, mendengarkan cerita, dan memenuhi ajakan kecil mereka.

Kelak, ketika Azim mengenang masa kecilnya, semoga ia tidak hanya mengingat buah kersen yang pernah dipetiknya, tetapi juga merasakan kembali hangatnya kebersamaan yang menyertainya.

Barangkali, buah kersen itu akan habis dimakan. Namun, kenangan tentang memetiknya bersama Ayah, semoga tetap tumbuh dan berbuah sepanjang masa.


Laraswangi, 07-11-2026

Super Admin

Penulis dan jurnalis di Laraswangi. Meliput berbagai isu aktual dan memberikan laporan mendalam untuk pembaca setia kami.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditampilkan setelah moderasi.