Bagi kami sekeluarga, bakda salat Subuh berjamaah adalah waktu tersibuk. Hal itu berlaku setiap hari, terutama ketika kegiatan belajar di sekolah berlangsung aktif. Mulai dari urusan dapur, sumur, hingga persiapan diri untuk berangkat kerja, semuanya seolah harus diselesaikan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Tak kalah penting, kami juga harus membantu Azimatun Faiqotuz Zahro mempersiapkan diri berangkat ke madrasah.
Alhamdulillah, Selasa pagi, tepatnya 3 November 2026, Azim, begitu kami biasa memanggil anak kedua kami ini, bangun lebih awal dari biasanya. Ada lebih banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat.
Setelah mandi, berganti pakaian, sarapan, dan merapikan perlengkapan sekolah, Azim tampak bersiap hendak berangkat. Di sela-sela kesibukan pagi itu, saya mengajaknya berbincang santai. Iseng, saya mencoba mengajukan sebuah pertanyaan sederhana.
"Nduk, dari semua mata pelajaran di madrasah, mata pelajaran apa yang paling sampean suka?"
"IPAS, Yah," jawab anak saya yang kini duduk di kelas III MI Islamiyah Kepoh itu.
"Selain itu?"
"Al-Qur'an Hadits dan SKI," jawabnya mantap.
"Kenapa kok suka IPAS, Nduk?" tanya saya, sedikit menyelidik.
"Karena IPAS kan membahas tentang alam, binatang, dan tumbuhan. Saya suka itu," tuturnya polos.
"Keren," sahut saya, mengapresiasi jawabannya.
"Lalu, kenapa suka Al-Qur'an Hadits dan SKI?"
"Kalau Al-Qur'an Hadits, saya suka hafalannya. Kalau SKI, saya suka cerita kisah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya," jawabnya sambil merapikan baju seragamnya.
Saya tersenyum mendengar jawabannya.
Dalam hati kecil, saya merasa ada sesuatu yang menarik. Azim memiliki kegemaran yang hampir sama dengan saya ketika seusianya dahulu. Saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) Bahrul Ulum, saya menyukai mata pelajaran IPA dan Al-Qur'an Hadits. Sementara itu, ibunya juga memiliki kegemaran pada mata pelajaran Matematika dan ilmu-ilmu eksakta.
Percakapan singkat itu kemudian membawa pikiran saya pada satu hal: betapa menariknya mengenali dunia anak melalui sesuatu yang mereka sukai.
Barangkali, bagi sebagian orang, jawaban Azim hanyalah jawaban sederhana seorang anak kelas III madrasah. Namun, bagi saya sebagai seorang ayah, ada banyak hal yang bisa direnungkan dari percakapan pagi itu.
Mengenali Potensi dari Hal-hal Sederhana
Setiap anak memiliki keunikan. Mereka tumbuh dengan ketertarikan, kebiasaan, dan cara belajar yang tidak selalu sama. Ada anak yang senang berhitung, ada yang gemar membaca, ada yang suka membongkar pasang benda, dan ada pula yang begitu menikmati cerita.
Azim menyukai IPAS karena di dalamnya ia mengenal alam, binatang, dan tumbuhan. Ketertarikan ini membuat saya bertanya-tanya: jangan-jangan, ia memang menikmati kegiatan mengamati lingkungan dan memahami berbagai fenomena di sekitarnya.
Sementara itu, kegemarannya terhadap Al-Quran Hadits karena hafalan dan SKI karena kisah Rasulullah saw. serta para sahabat menunjukkan bahwa ia juga menikmati pembelajaran melalui hafalan dan cerita.
Tentu, saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa kegemaran tersebut sudah cukup untuk menentukan karakter atau kecerdasan Azim. Namun, setidaknya, percakapan itu menjadi pintu awal bagi saya untuk mengenali minat dan potensi yang mungkin bisa terus dikembangkan.
Sebagai orang tua, saya merasa perlu lebih banyak mendengarkan anak. Bukan hanya mendengarkan ketika ia bercerita tentang kejadian di sekolah, tetapi juga ketika ia mengungkapkan apa yang disukai, apa yang membuatnya penasaran, dan apa yang ingin diketahuinya.
Sebab, terkadang, potensi anak justru terlihat dari hal-hal kecil yang mereka ceritakan dengan penuh semangat.
Apa Kata Psikologi Perkembangan Anak?
Ketika mencoba memahami percakapan sederhana ini, saya teringat pada beberapa pemikiran tokoh psikologi perkembangan anak.
Jean Piaget, seorang psikolog yang dikenal melalui teori perkembangan kognitif, menjelaskan bahwa anak membangun pemahamannya melalui interaksi dengan lingkungan. Pada rentang usia sekitar 7–11 tahun, anak umumnya mulai mengembangkan kemampuan berpikir logis terhadap hal-hal yang konkret dan dapat diamati secara langsung.
Pemikiran ini relevan dengan kegemaran Azim terhadap IPAS. Alam, binatang, dan tumbuhan merupakan hal-hal yang dekat dengan pengalaman sehari-harinya. Melalui kegiatan mengamati, membandingkan, bertanya, dan mencoba, anak dapat membangun pemahamannya tentang dunia.
Tentu saja, kesukaan terhadap IPAS belum membuktikan bahwa Azim memiliki kecerdasan ilmiah yang lebih tinggi daripada anak-anak lainnya. Akan tetapi, kegemaran itu bisa menjadi kesempatan bagi kami untuk menyediakan pengalaman belajar yang lebih bermakna baginya.
Pemikiran lain datang dari Erik Erikson, tokoh psikologi perkembangan yang menjelaskan bahwa anak usia sekolah, secara umum sekitar 6–12 tahun, sedang membangun rasa mampu melalui kegiatan belajar, menyelesaikan tugas, dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Pada tahap ini, dukungan orang tua dan guru penting agar anak memperoleh pengalaman keberhasilan, merasa dihargai, dan semakin percaya pada kemampuannya sendiri.
Bagi saya, pemikiran Erikson mengingatkan bahwa mendampingi anak bukan semata-mata soal memastikan nilai rapornya bagus. Lebih dari itu, kita perlu membantu anak menikmati proses belajar, menghargai usaha, dan berani mencoba hal-hal baru.
Saya juga belajar bahwa mengenali kegemaran anak tidak berarti harus segera menentukan masa depannya. Anak masih memiliki ruang yang luas untuk tumbuh, berubah, dan menemukan minat-minat baru.
Tugas kami sebagai orang tua adalah menyediakan kesempatan, memberikan dukungan, serta mendampingi proses perkembangannya dengan penuh kasih sayang.
Ketika Ayah Menjadi Pendengar
Setelah Azim selesai merapikan diri dan siap berangkat ke madrasah, saya mengajaknya berfoto di depan rumah. Latar belakangnya adalah Masjid Nurul Islam, masjid kebanggaan masyarakat Dusun Bulu, Desa Simorejo, Kecamatan Kepohbaru.
Ia sempat bertanya, "Foto itu mau dibuat apa, Yah?"
"Mau Ayah gunakan untuk tulisan Ayah."
"Oh ... kayak cerita, gitu to, Yah?"
"Nah, betul banget."
Azim kemudian meminta saya menunjukkan hasil jepretan tersebut. Ketika melihat fotonya, ia tampak berseri.
Saya tersenyum menyaksikan ekspresinya.
Percakapan kecil itu mungkin akan segera berlalu dari ingatan Azim. Setelah berangkat ke madrasah, ia akan kembali sibuk dengan pelajaran, teman-teman, dan berbagai pengalaman baru. Sementara itu, saya akan kembali menjalani rutinitas sebagai seorang guru.
Namun, bagi saya, pagi itu meninggalkan kesan tersendiri.
Saya menyadari bahwa mengenali anak tidak selalu membutuhkan kegiatan khusus, buku panduan parenting yang tebal, atau percakapan serius yang dirancang sedemikian rupa. Terkadang, kita hanya perlu menyediakan sedikit waktu di tengah kesibukan, mengajukan pertanyaan sederhana, lalu mendengarkan jawabannya dengan sungguh-sungguh.
Dari sana, kita bisa mulai memahami apa yang menarik perhatian mereka, bagaimana mereka memandang dunia, dan pengalaman seperti apa yang membuat mereka bersemangat.
Saya pun ingin belajar menjadi ayah yang tidak hanya mengarahkan, tetapi juga mendengarkan. Ayah yang tidak tergesa-gesa memberikan penilaian, tetapi bersedia menemani anak menemukan kemampuannya sendiri.
Saya tidak tahu kelak Azim akan tumbuh menjadi apa. Bisa jadi ia akan semakin mencintai ilmu pengetahuan alam. Bisa pula, seiring waktu, ia menemukan kegemaran lain yang saat ini belum terbayangkan.
Apa pun itu, saya berharap ia tumbuh menjadi anak yang senang belajar, berani bertanya, tekun berusaha, mencintai Al-Qur'an, dan mampu mengambil hikmah dari kisah Rasulullah serta para sahabatnya.
Sebab, bagi saya, keberhasilan mendidik anak bukan semata-mata tentang mengantarkan mereka menuju profesi tertentu atau meraih prestasi setinggi-tingginya. Ada hal yang lebih mendasar: membantu mereka mengenali dirinya, mengembangkan potensi yang dimiliki, dan menumbuhkan akhlak yang baik.
Pagi itu, saya hanya mengajukan beberapa pertanyaan sederhana kepada Azim. Namun, dari percakapan singkat tersebut, saya justru mendapatkan pengingat berharga bagi diri sendiri.
Bahwa menjadi orang tua berarti terus belajar mengenali anak, bahkan ketika kita merasa sudah cukup mengenalnya.
Dan mungkin, di antara kesibukan yang terus berulang setiap pagi, ada banyak kesempatan kecil untuk memahami mereka dengan lebih baik.
Asalkan kita bersedia berhenti sejenak, bertanya dengan tulus, dan mendengarkan dengan hati.
Sebab, terkadang, untuk mengenali potensi seorang anak, kita tidak perlu memulai dengan pertanyaan yang rumit. Kita hanya perlu memulai dengan percakapan sederhana, lalu memberikan ruang bagi mereka untuk bercerita.
Laraswangi, 3 November 2026
Catatan referensi psikologi:
Piaget, J. (1952). The Origins of Intelligence in Children. International Universities Press.
Erikson, E. H. (1950). Childhood and Society. W. W. Norton & Company.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!