Keterangan foto dari kiri: Pak Usman Roin, Slamet Widodo, Pak Nanang Fahrudin, Pak Parto dan Ndhuk Khoirotun Nisa'
Laraswangi - Surprise adalah kata dalam bahasa Inggris yang berarti “kejutan”, yakni peristiwa atau perasaan yang muncul akibat sesuatu yang tidak terduga.Ya, itulah yang saat ini saya rasakan.
Betapa tidak, saya mendapat banyak kejutan dari sahabat pena saya, Pak Usman Roin.
Pak Usron, begitu saya biasa memanggilnya agar terasa lebih akrab, adalah dosen sekaligus Kepala Perpustakaan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro.
Pada Kamis Wage, 29 Oktober 2026, saya datang ke UNUGIRI untuk memenuhi undangan Pak Usron. Saya diminta menjadi pemantik dalam acara bedah buku terbaru karyanya. Acara itu diselenggarakan di perpustakaan yang ia pimpin.
Sekitar dua bulan sebelum bukunya naik cetak, saya diminta menulis kata pengantar untuk buku Agar Ramadanmu Kaya Amal, karya terbaru beliau.
Buku itu ditulis selama bulan Ramadan 2026. Saat itu, Pak Usron membuat tantangan untuk dirinya sendiri: satu hari, satu tulisan. Semangat tersebut kemudian ia tularkan kepada saya dan salah seorang mahasiswanya.
Saya pun menerima tantangan itu. Namun, baru memasuki hari kelima belas, langkah saya terhenti. Saya tidak mampu lagi melanjutkan kebiasaan menulis setiap hari karena berbagai kesibukan. Sementara itu, Pak Usron berhasil menuntaskan tantangannya hingga Ramadan berakhir.
Buah dari keistikamahannya itu bukan main-main: lahirlah sebuah buku.
Sekitar sebulan sebelum tanggal pelaksanaan ditetapkan, Pak Usron menghubungi saya melalui WhatsApp. Ia meminta saya menjadi pemantik dalam acara bedah buku tersebut.
Dua minggu sebelum acara, ia mengirimkan draf desain pamflet kepada saya. Di sana terpampang foto Pak Usron di bagian tengah, sementara foto saya berada di sebelah kanan dan foto Pak Nanang Fahrudin di sebelah kiri.
Saya membaca nama itu berkali-kali untuk memastikan. Sebab, nama tersebut tidak asing bagi saya.
Setelah saya tanyakan langsung kepada Pak Usron, ternyata benar. Orang yang dimaksud adalah Pak Nanang yang selama ini saya kenal melalui Facebook.
Saya pun meminta Pak Usron mengirimkan nomor WhatsApp Pak Nanang Fahrudin.
Saya mengenal Pak Nanang sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah Bojonegoro. Beliau juga mengoleksi benda-benda antik, mengelola situs Gang Kecil, dan menulis buku Bodjonegoro Tempo Doeloe.
Ada kenangan menarik ketika saya membeli buku tersebut pada 4 April 2018. Saat itu, Pak Nanang menitipkan buku yang saya beli kepada Mbak Pip, penjual sandal asal desa Ngemplak yang berjualan di Pasar desa Kepoh, Kepohbaru. Belakangan, saya mengetahui bahwa Mbak Pip adalah ibunda Pak Nanang, yang kini telah berpulang.
Sungguh, dunia literasi kadang menghadirkan pertemuan-pertemuan yang tidak pernah kita rencanakan. Sebuah buku yang dibeli bertahun-tahun silam ternyata menyimpan benang merah dengan seseorang yang kelak akan saya temui dalam sebuah acara.
Nah, kejutan demi kejutan itu datang beruntun dalam kurun waktu kurang dari sepuluh bulan. Mulai dari kepercayaan Pak Usron kepada saya untuk menulis kata pengantar bukunya, undangan menjadi pemantik bedah buku, hingga kesempatan untuk kembali terhubung dengan Pak Nanang Fahrudin.
Namun, kejutan itu ternyata belum berhenti sampai di situ.
Pada hari pelaksanaan bedah buku, saya datang lebih awal. Berdasarkan informasi dalam undangan dan pamflet, acara dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB. Saya tiba sekitar lima belas menit sebelum acara dimulai.
Setelah memarkir motor di depan musala kampus, saya terlebih dahulu bertanya kepada dua mahasiswa yang sedang duduk di teras musala sambil mengenakan sepatu. Saya ingin memastikan letak ruang perpustakaan yang akan menjadi tempat acara.
Tempat acara berada di lantai dua, tepat di sisi kiri musala. Dengan langkah pasti, saya menaiki tangga menuju perpustakaan.
Sesampainya di depan pintu, suasana masih sepi. Hanya beberapa pasang sepatu yang tertata rapi di depan pintu perpustakaan.
Langkah saya terhenti sejenak. Saya memastikan bahwa saya tidak datang terlambat dan tempat yang saya tuju memang benar.
Sejurus kemudian, datanglah seorang pemuda berkulit putih. Ia mengenakan kopiah khas santri, kaus putih yang dibalut jaket tebal berwarna hitam, serta celana jin dan sepatu. Di tangan kirinya, ia menenteng sebuah keranjang berisi parsel jajanan pala pendem rebus.
“Pak Widodo?!” serunya sambil mengarahkan telunjuk ke arah saya.
“Iya, betul, Pak,” jawab saya, sedikit terkejut.
“Saya Parto, Pak,” tuturnya memperkenalkan diri.
“Pak Parto BlokBojonegoro.com?” tanya saya untuk meyakinkan diri.
“Iya, betul, Pak,” jawabnya ramah sambil tersenyum. “Namun, saya sudah tidak lagi di situ. Saya sekarang di media online nasional,” terangnya.
Kami pun bersalaman dan saling berpelukan.
Sungguh, saya benar-benar kaget. Bagaimana mungkin saya bisa bertemu langsung dengan Pak Parto, seorang wartawan yang selama ini saya kenal melalui media online BlokBojonegoro.com?
Selama ini, saya memang sering berkomunikasi dengan Pak Parto melalui pesan WhatsApp. Saya kerap mengirimkan berita kegiatan madrasah tempat saya mengabdi, masjid tempat saya berkhidmat, serta majelis tempat saya menimba ilmu. Berita-berita yang saya kirimkan itu sering kali tayang di laman BlokBojonegoro.com.
Namun, saya sama sekali tidak menduga bahwa kami akhirnya dipertemukan secara langsung, pada waktu dan acara yang begitu istimewa.
Sejurus kemudian, Pak Usron keluar dari ruang perpustakaan dan menemui kami. Kami pun berbincang tentang banyak hal, terutama perkembangan literasi di Bojonegoro.
Pagi itu, saya datang ke UNUGIRI dengan satu tujuan: memenuhi undangan sahabat pena untuk menjadi pemantik bedah buku. Namun, saya pulang membawa lebih banyak cerita daripada yang saya bayangkan sebelumnya.
Ada Pak Usron dengan buku dan kepercayaannya. Ada Pak Nanang dengan jejak sejarah dan kenangan tentang ibundanya. Ada pula Pak Parto, sosok yang selama ini hanya saya kenal melalui percakapan di WhatsApp, tetapi pagi itu hadir nyata di hadapan saya. Ada juga Ndhuk Khoirotun Nisa' salah satu anggota keluarga Komunitas Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro.
Saya pun menyadari, dunia literasi bukan sekadar perkara menulis, membaca, menerbitkan buku, atau membicarakan gagasan. Lebih dari itu, literasi adalah jalan untuk merawat persahabatan, menyambung ingatan, dan mempertemukan orang-orang yang semula hanya saling mengenal melalui kata-kata.
Barangkali, inilah salah satu cara Tuhan merangkai pertemuan. Kita berangkat dengan rencana sederhana, lalu dipertemukan dengan hal-hal yang tak pernah terlintas dalam pikiran. Satu per satu, kejutan hadir, seolah mengingatkan bahwa kehidupan selalu menyimpan cerita di luar dugaan kita.
Dan hari itu, saya pulang dengan sebuah keyakinan: kata-kata yang kita tulis dengan tulus tak pernah benar-benar berhenti di halaman. Ia bisa menjelma jembatan, mempertemukan hati, merawat kenangan, dan mengantarkan kita pada persahabatan yang tak pernah kita rencanakan.
Terima kasih, Pak Usron. Terima kasih atas undangan, kepercayaan, dan kejutan demi kejutan yang tak akan mudah saya lupakan.
Sebab, ternyata, ada pertemuan yang tidak cukup hanya diceritakan. Ia perlu disyukuri, dikenang, dan—sebagaimana kebiasaan seorang penulis—diabadikan menjadi tulisan.
Laraswangi, 01-11-2026
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!