Sering kali saya mendapat amanah dari kerabat dekat atau tetangga untuk mewakili keluarga dalam acara pasrah pengantin—menyerahkan atau memasrahkan pengantin kepada keluarga besan dan mempelai, baik pengantin putra maupun putri.
Dalam seremonial atau pesta pernikahan, saya harus berdiri di hadapan ratusan tamu undangan untuk menyampaikan sambutan dari pihak keluarga.
Jujur, setiap kali berdiri di hadapan banyak orang, kadang saya masih merasa nervous. Bahkan, tidak jarang tiba-tiba nge-blank. Semua konsep sambutan yang sudah saya susun dan hafalkan seolah hilang seketika.
Namun, Alhamdulillah, bi idznillah, biasanya saya tetap bisa menyampaikan sambutan dengan baik dan lancar. Sebab, pada akhirnya, yang paling penting bukanlah kesempurnaan rangkaian kata, melainkan pesan dan amanah dari shohibul bait dapat tersampaikan kepada keluarga besan dan seluruh tamu undangan.
Namun, kali ini terasa berbeda.
Pada Selasa siang, 25 Agustus 2026, seorang tetangga meminta saya mewakili keluarganya untuk menyampaikan sambutan pasrah pengantin perempuan di Kecamatan Modo. Saya kembali berdiri di hadapan banyak orang, seperti biasanya.
Saya sudah menyiapkan konsep sambutan. Saya juga sudah membayangkan apa saja yang akan saya sampaikan.
Tetapi, di tengah-tengah menyampaikan sambutan, tiba-tiba saya terhenti.
Tenggorokan terasa tercekat. Kata-kata seolah tertahan. Saya tidak mampu melanjutkan kalimat untuk beberapa saat.
Bukan karena lupa materi.
Bukan pula karena gugup menghadapi ratusan pasang mata yang memandang.
Ada sesuatu yang tiba-tiba menyentuh hati saya.
Saat memasrahkan pengantin perempuan kepada keluarga besan, seketika saya teringat kepada anak gadis saya sendiri, yang saat ini baru saja memasuki dunia perkuliahan.
Dalam hati saya berkata,
"Kelak, anakku juga akan seperti ini..."
Bayangan tentang hari ketika saya harus berdiri di hadapan orang banyak, memasrahkan putri saya kepada seorang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya, tiba-tiba hadir begitu nyata.
Entah mengapa, dada saya terasa sesak.
Mata saya mulai berkaca-kaca.
Dan tanpa terasa, air mata pun menetes.
Saya segera menyekanya, berusaha menguasai diri dan melanjutkan sambutan.
Di hadapan para tamu undangan, saya mungkin sedang berdiri sebagai wakil keluarga pengantin.
Tetapi, jauh di dalam hati, saat itu saya sedang berdiri sebagai seorang ayah yang tiba-tiba membayangkan masa depan putrinya.
Dan ternyata, bukan hanya saya yang merasakan hal itu.
Istri saya yang duduk di antara ibu-ibu undangan pun ternyata sibuk menyeka air matanya.
Hal itu baru disampaikan kepada saya malam harinya, seusai kami melaksanakan salat Isya berjamaah.
Saya tersenyum ketika mendengarnya.
Ternyata, tanpa saling memberi tahu, kami berdua sama-sama sedang membayangkan hal yang sama.
Tentang seorang anak perempuan yang suatu hari nanti akan meninggalkan rumah untuk membangun kehidupan bersama pendamping pilihannya.
Tentang sebuah hari yang sampai saat ini belum tiba, tetapi rupanya sudah mampu membuat hati kedua orang tuanya bergetar.
Ternyata, ada satu hal yang baru saya sadari hari itu.
Memasrahkan pengantin perempuan bukan hanya tentang melepas seorang anak kepada keluarga barunya. Bagi seorang ayah dan ibu, itu adalah salah satu bentuk pelepasan hati yang paling dalam.
Dan mungkin, ketika tiba waktunya nanti, saya tidak akan lagi sekadar menjadi orang yang mewakili keluarga untuk menyampaikan sambutan.
Saya akan menjadi seorang ayah yang benar-benar sedang memasrahkan putrinya.
Semoga ketika hari itu tiba, saya dan ibunya telah cukup ikhlas untuk melepasnya.
Semoga putri kami mendapatkan suami yang baik, yang mampu menjaganya, memuliakannya, membimbingnya dalam kebaikan, dan menjadi teman perjalanan menuju ridha Allah.
Dan semoga, sebelum hari itu datang, kami sebagai orang tua telah menunaikan sebaik-baiknya amanah dalam mendidik dan membekalinya dengan iman, ilmu, akhlak, dan kemandirian.
Sebab pada akhirnya, anak perempuan bukan untuk selamanya kita genggam.
Ada saatnya ia harus kita lepaskan.
Bukan karena kita berhenti mencintainya, tetapi justru karena kita mencintainya.
Kita ingin melihatnya tumbuh menjadi perempuan dewasa yang bahagia, terhormat, dan mampu membangun rumah tangganya sendiri.
Hari itu belum tiba.
Namun, hari ketika saya terdiam di tengah sambutan pasrah pengantin perempuan di Kecamatan Modo, saya seperti sedang diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan sedikit dari apa yang kelak mungkin akan saya rasakan.
Barangkali, Allah sedang mengajari saya untuk mulai belajar ikhlas, jauh sebelum hari itu benar-benar datang.
Dan ternyata...
menjadi ayah dari seorang anak perempuan membuat urusan melepas terasa jauh lebih berat daripada sekadar mengucapkan kata-kata perpisahan.
Ruang Kenangan, 26 Agustus 2026
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!